BOGOR–GeRal: Kenangan masa kecil kerap hinggap pada seseorang di saat dewasa, dan membawanya pada suatu kerinduan. Itu yang dialami Dominick. Meski sudah sekian lama bekerja di dunia industri, karirnya bagus, namun kenangan masa kecil terus mengganggunya. Dia rindu untuk mewujudkan cita-citanya sebagai seorang petani.

Dominick Menge Tuba, pria asal Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memang lahir dari keluarga petani. Sejak kecil dia dan satu lagi saudaranya sangat akrab dengan kehidupan petani.

“Dulu, kami kalau libur sekolah pergi ke sawah dan ladang. Pernah waktu kami kelas tiga SD sekitar tahun 1977, kami berlomba menanam tanaman tingkat desa, untuk mendapat hadiah sepatu,” cerita Dominick.

Kebetulan waktu itu, menurut penilaian panitia desa, Dominick menjadi juaranya. Kenangan itu terus diingat Dominick dan membuatnya bangga.

“Saya ingat betul, hari itu adalah tanggal 31 Desember 1977. Kami dipanggil ke depan untuk menerima hadiah di hadapan semua warga desa,” kenangnya.

Merantau menjadi pilihan

Sebagai anak desa nun jauh di Kabupaten Ngada, NTT, cita-cita Dominick seperti halnya anak-anak lain. Merantau ke kota. Waktu itu, kota yang sangat ingin ditujunya adalah Bandung. Dia ingin sekali kuliah di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Namun, takdir berkata lain. Setamat SMA dia berangkat ke Malang Jawa Timur dengan kapal laut. Dengan cita-cita dan semangat yang begitu tinggi tapi uang terbatas, Dominick sempat terdampar di Surabaya karena mengalami kehilangan.

Di Surabaya ia sempat numpang di rumah seseorang, kemudian melanjutkan kuliah di Institut Pastoral Indonesia, Malang. Namun sayang, karena masalah keuangan, kuliahnya tidak sampai selesai.

Bandung Kota Impian

Dari Malang, Dominick pergi ke Bandung, kota impiannya. Di kota besar itu, ia mulai belajar hidup mandiri. Dia bekerja dari nol, awalnya di sebuah industri kecil. Kemudian bekerja sebagai marketing dari satu industri ke industri lain, khususnya tekstil. Hingga akhirnya menduduki posisi manajer.

Pada tahun 1998-2000, Dominick bekerja di perusahaan Jepang dengan gaji yang cukup tinggi. Saat itu, dia merasa sudah mencapai keinginan dan cita-citanya.

Dari situlah, timbul keinginan Dominick untuk menjadi seorang pengusaha. Dengan modal yang ada, dia memulai berdagang tekstil. Pemasaran dia jalankan dari Bandung hingga ke daerah Jawa. Namun bisnisnya gagal. Tabungan selama bertahun-tahun ludes.

Tahun 2001, pada saat mulai membangun rumah tangga, Dominick seperti memulai semuanya dari nol bahkan minus. Dia berusaha apa saja, dari mulai menjadi sales berbagai macam produk, menjual makanan sendiri, dan lain sebagainya. Namun, semua upaya yang dia lakukan belum membuahkan hasil.

Jatuh Hati pada Pertanian

Hingga suatu saat, dia pergi ke pasar Gedebage Bandung dan menemukan peluang bisnis sebagai pengepul batok kelapa. Dari batok kelapa, dia merambah sebagai pengepul biji-bijian untuk dijual ke petani pembibit tanaman di sekitar Lembang Bandung.

Dari bisnis tersebut, Dominick berhasil membeli sebuah toko di Ciwidey untuk menjual obat-obatan, tapi dia kemudian gelisah.

Dia ingin sebuah usaha yang sesuai dengan keinginan dan hobinya, yaitu pertanian. Dunia yang sudah digelutinya sejak kecil, namun kini tertinggal sebagai kenangan di dalam imajinya.

Tahun 2004 Dominick mulai membuka lahan organik di sebuah kaki gunung di Ciwidey. Tidak mudah awalnya. Banyak hal di luar ekspektasinya. Namun dia harus kembali belajar mencintai pekerjaan sebagai petani.

Penghasilannya, langit dan bumi jika dibanding dengan bekerja di industri. Namun, hati Dominick sudah dilabuhkannya ke pertanian. Apapun hasilnya harus dia terima dengan sabar. Dengan 75 karyawan, dia membuka lahan dari mulai 3.000 meter menjadi 8,5 hektare. Banyak tantangan, terutama dalam penjualan.

“Kami bawa sayuran ke pasar 100 kilo, sisanya 99 kilo. Kami bagi-bagikan ke panti asuhan,” kisahnya.

Hingga akhirnya, dia berhasil memasok sayuran ke Yogya Supermarket. Kelompok tani Dominick termasuk yang pertama memasok sayur organik ke supermarket di Bandung itu dengan merek “Bukit Organik”. Dari situlah, produk sayur organik milik mereka mulai dikenal di Bandung.

Waktu berjalan, Dominick mencoba memecahkan sejumlah persoalan dalam lingkungan pertanian organik, seperti permodalan dengan membuat koperasi, lalu membuat sistem plasma, mengembangkan jaringan pemasaran hingga ke Jakarta lain-lain. Dan, upayanya lumayan berhasil.

“Salah satu yang kita masuki adalah Ranch Market di Jakarta,” kata Dominic.

Hal ini semakin meyakinkan Dominick bahwa bisnis pertanian organik adalah pilihan yang tepat karena produk yang dihasilkan ternyata mempunyai pasar yang tinggi dan mampu bersaing dengan produk sayuran impor sekalipun.

Mengembangkan Pertanian Organik di Bogor

Melihat peluang yang bagus, Dominick akhirnya mengembangkan pertanian organik di wilayah Bogor Jawa Barat, tepatnya di desa Pabuaran. Dia mendirikan kelompok bernama “Pabuaran Organic”.

Untuk pemasaran, dia bekerja sama dengan supermarket dari Tangerang hingga Bekasi. Dari kebun sayur di Pabuaran inilah, ditambah dari mitra lainnya di kawasan Bogor, sayuran organik dipasok.

Di Bogor, Dominick terus berupaya mendorong petani beralih ke organik.

“Ini tidak bisa instan. Semua harus melalui proses. Sementara di sisi lain, ia juga terus menyiapkan pasar,” kata Dominick.

Dominick berpendapat, dalam pertanian organik petani harus tahu apa tujuan dan targetnya, karena harus berkelanjutan.

Sebetulnya, kebutuhan dari sisi petani itu sederhana saja. Pasar yang jelas, harga yang jelas, dan pembayaran yang jelas.

Karena itu, ke depan Dominick ingin mewujudkan pertanian organik dengan petani yang terdidik, fokus pada produksi, ketersediaan kompos yang stabil, gudang pasca panen, kelompok petani yang solid termasuk adanya koperasi, serta upaya memotong rantai distribusi.

“Jika semua itu dilakukan, pertanian organik sungguh sangat menjanjikan dan menguntungkan,” kata Dominick. (imt)

Avatar

By admin

GeRal (https://geraijenderal.id) merupakan platform berbagi informasi positif, Independen tentang ketahanan pangan dan berita inspirasi informasi Bisnis & UMKM se-Indonesia dengan bermacam potensi yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Lagi Hangat Selamat Hari Bakti TNI AU Ke-74 Qoutes of day