BANTEN–GeRal: Kabupaten Lebak Banten sejak dulu sudah dikenal sebagai sentra industri gula aren. Banyaknya pohon aren atau kolang-kaling yang tumbuh di wilayah itu membuat industri gula aren bertumbuh.

Namun sayangnya, selama ini usaha gula aren rakyat yang sebagian besar dijalankan dalam skala kecil (industri rumah tangga) terus mengalami kelesuan akibat kalah pamor dengan gula pasir atau gula pabrikan lainnya.

Pandemi Covid-19, seolah membawa industri gula aren kembali ke masa kejayaan. Di Lebak Banten, permintaan gula aren seketika naik. Gula yang dianggap lebih sehat ini digunakan oleh masyarakat untuk perasa manis  minuman herbal.

Soal gula aren, sudah banyak ahli kesehatan yang menyarankan penggunaannya sebagai pengganti gula pasir dalam campuran makanan karena dianggap lebih sehat karena diproses secara alami.

Selain itu, dikutip Livestrong, kalori yang terkandung dalam gula aren juga lebih kecil dibanding gula putih. Gula aren memiliki nilai indeks glikemik yang lebih rendah yaitu sebesar 35 sedangkan pada gula pasir indeks glikemiknya sebesar 58.

Indeks glikemik (GI) adalah skala atau angka yang diberikan pada makanan tertentu berdasarkan seberapa besar makanan tersebut meningkatkan kadar gula darahnya, skala yang digunakan adalah 0-100.

Indeks glikemik disebut rendah jika berada di skala kurang dari 50, indeks glikemik sedang jika nilainya 50-70 dan indeks glikemik tinggi jika angkanya di atas 70.

Nilai indeks glikemik yang lebih rendah membuat gula aren lebih aman dikonsumsi dan tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang membahayakan terutama bagi penderita diabetes.

Selain kandungan gulanya yang lebih sedikit, gula aren juga diketahui mengandung senyawa-senyawa lain yang bermanfaat seperti thiamine, riboflavin, asam askorbat, protein dan juga vitamin C.

Permintaan Naik

Sejak dua bulan lalu, permintaan gula aren di Kabupaten Lebak meningkat hingga 200 toros, dari sebelumnya 100 toros per pekan. Gula aren banyak digunakan untuk minuman herbal seperti jahe.

Gula aren di Lebak dijual seharga Rp400 ribu per toros. “Artinya, jika terjual 200 toros maka bisa menghasilkan Rp80 juta,” kata Sam’un seorang bandar gula aren asal Rangkasbitung, Lebak, Senin (5/7) kepada media. Pendapatan sebesar itu tentu sangat berarti bagi masyarakat.

Meningkatnya permintaan gula aren secara otomatis berdampak pada pendapatan ekonomi masyarakat desa di Lebak. Diketahui, para pengrajin gula aren tersebar di pelosok-pelosok desa di Kabupaten Lebak karena banyaknya perkebunan pohon aren sebagai bahan bakunya.

Produksi gula aren tersebar seperti di Kecamatan Cirinten, Sobang, Cibeber, Cijaku, Cilograng, Malingping, Leuwidamar dan Muncang.

Produk gula aren dari Kabupaten Lebak selama ini dikenal memiliki keunggulan karena organik dan juga rasanya manis, beraroma harum serta tahan lama tanpa bahan pengawet.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Yudawati mengakui bahwa industri gula aren berkembang pesat di tengah pandemi karena  permintaan cukup tinggi, sehingga saat ini menjadi unggulan pendapatan ekonomi masyarakat pedesaan.

Tercatat, jumlah perajin gula aren di Kabupaten Lebak berjumlah sekitar 11.000 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja 22.000 orang. Belum lagi sektor lain yang juga menikmati manisnya bisnis gula aren Lebak ini, seperti para bandar, pengepul hingga pedagang pengecer.

Mutu dan kualitas gula aren Lebak terus ditingkatkan agar bisa menjadi produk rakyat andalan dari kabupaten tersebut, sehingga bisa memenuhi kebutuhan konsumen di dalam maupun luar negeri. (imt)

Avatar

By admin

GeRal (https://geraijenderal.id) merupakan platform berbagi informasi positif, Independen tentang ketahanan pangan dan berita inspirasi informasi Bisnis & UMKM se-Indonesia dengan bermacam potensi yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Lagi Hangat Selamat Hari Bakti TNI AU Ke-74 Qoutes of day