Bandung–GeRal: Provinsi Jawa Barat punya cara tersendiri untuk membangun pertanian berkelanjutan (Sustainable Agriculture), salah satunya melalui inovasi bernama Aksi Petani Perlindungan Tanaman alias ‘Aksi Tali Intan’.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Senin (5/7) inovasi tersebut memiliki beberapa urgensi yang melatarbelakanginya. Di antaranya, terkait masih rendahnya kepedulian petani terhadap serangan hama penyakit.

Sementara menurut catatan, serangan hama penyakit di Jabar cukup tinggi yakni 35 persen atau 170.858 hektare (Ha) terhadap 10 komoditas pertanian.

Untuk menghadapi hama selama ini petani masih menggunakan pestisida kimia karena dianggap memiliki daya bunuh yang tinggi, mudah aplikasinya dan hasilnya cepat terlihat.

“Sepuluh komoditas sering terkena hama, kemudian semuanya lari ke pestisida kimiawi,” kata Kang Emil.

Namun, Gubernur Jabar menjelaskan, pestisida kimiawi mengakibatkan ekosistem dan lingkungan terganggu, kesuburan lahan menurun, kualitas produk tidak bagus karena mengandung residu pestisida. Produktivitas juga lama-lama akan menurun sehingga akhirnya berdampak pada kesejahteraan petani.

Program Aksi Tali Intan ingin menjawab semua persoalan tersebut. Terdapat empat nilai pembaruan yang dilakukan oleh program ini, yakni aksi sederhana, perubahan pola pikir, perubahan budaya kerja, dan pemberian insentif.

“Nilai pembaruan kami ini aslinya sangat sederhana sehingga mudah diduplikasi berkali-kali lipat dalam hitungan tahun. Dan akhirnya mengubah pola daya kerja, insentif kami untuk pestisidanya. Hasilnya alhamdulillah,” kata Ridwan Kamil.

Bagaimana pelaksanaannya? Pemungutan hama penyakit akan dilakukan setiap hari oleh petani di dalam kantong. Kemudian para petani melakukan pencatatan jumlah hama penyakit yang terkumpul.

Hama penyakit yang tercatat tersebut dilaporkan kepada regu pengendali organisme penganggu tumbuhan (OPT). Setelah itu, pemerintah akan memberikan insentif berupa pupuk organik.

Petani yang rajin akan diberikan insentif yaitu pupuk organik dan pestisida hayati sebagai pengganti kimiawi, secara gratis.

Selain itu, juga dilakukan penyesuaian layanan dengan penyebarluasan video cara pelaksanaan Aksi Tali Intan, menggunakan masker saat di kebun, monitoring dan evaluasi, hingga insentif melalui ekspedisi.

Saat ini, inovasi yang dilakukan Pemda Jabar tersebut mulai menunjukkan hasil. Buktinya adalah berkurangnya hama penyakit dari semula 35 persen menjadi 7,57 persen. Selanjutnya, produktivitas juga meningkat dari 27 persen menjadi 44 persen.

Dampaknya berpengaruh kepada serapan pasar produk pertanian yang ikut melonjak dari 43 persen menjadi 85 persen. Pendapatan petani juga akhirnya ikut naik dari 56 persen menjadi 86 persen.

Aksi Tali Intan hasil inovasi Provinsi Jabar menghasilkan manfaat multidimensi, mulai dari menjaga dan merawat lingkungan agar berkelanjutan (sustainable) produktivitas meningkat, market atau pasar merespon, dan yang terpenting tujuannya adalah kesejahteraan petani meningkat. (imt)

Avatar

By admin

GeRal (https://geraijenderal.id) merupakan platform berbagi informasi positif, Independen tentang ketahanan pangan dan berita inspirasi informasi Bisnis & UMKM se-Indonesia dengan bermacam potensi yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Lagi Hangat Selamat Hari Bakti TNI AU Ke-74 Qoutes of day