Jakarta–GeRal: Nama Greysia Polii dan Apriyani Rahayu kini tengah berkibar. Duo srikandi bulutangkis tersebut baru saja berhasil menyabet medali emas di Olimpiade Tokyo 2020 untuk nomor ganda putri. Keduanya menjadi oase kegembiraan di tengah kepenatan masyarakat Indonesia akibat pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai.

Lalu, siapakah sosok kedua perempuan tersebut?

Greysia Polii

Greysia Polii adalah pebulutangkis kelahiran Jakarta. Usianya kini menginjak 33 tahun, lebih senior dari Apriyani.

Greysia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara pasangan Willy Polii dan Evie Pakasi.

Pengagum Zhang Ning dan Susi Susanti ini, memulai karir bulutangkisnya saat ia masuk ke klub Jaya Raya Jakarta dan kemudian bergabung dengan Pelatnas pada tahun 2003.

Ia dilatih oleh pebulutangkis kenamaan Richard Mainaky dan Aryono Miranat, Greysia awalnya ditempatkan di kelas ganda campuran. Ia  pernah dipasangkan dengan Muhammad Rijal dan Tontowi Ahmad.

Namun, seiring waktu ia dipindahkan ke ganda putri dan berpasangan dengan Heni Budiman, Jo Novita. Vita Marissa, Nitya Krishinda Maheswari dan Meiliana Jauhari juga pernah berpasangan dengan Greysia.

Greysia pernah menempati peringkat terbaik kedelapan dunia untuk kelas bulutangkis ganda putri. Pada 2004 dan 2008, ia dipasangkan dengan Jo Novita di Piala Uber Indonesia.

Setelah berganti-ganti pasangan, Greysia menemukan pasangan idealnya di Olimpiade Tokyo 2020, yaitu Apriyani Rahayu.

Konon, sewaktu kecil sebelum punya raket Greysia biasa bermain badminton dengan raket dari kayu.

Saat itu, usianya belum menginjak usia sekolah, Greysia yang tinggal di Manado, sangat menggemari olahraga bulutangkis karena anak-anak di sana memainkannya.

Namun karena belum punya raket, Greysia memakai raket kayu atau tripleks. Hingga suatu saat, ibunya menjual baju demi sang anak agar bisa membelikan raket.

Apriyani Rahayu

Lain Greysia lain Apriyani. Apriyani adalah atlet bulutangkis ganda putri Indonesia yang pernah mendapat medali perunggu di BWF World Championship 2018 dan Asian Games 2018.

Ia berlatih di bawah bimbingan pelatih yang mumpuni serta sparring yang lebih banyak. Apriyani dikenal sangat giat berlatih.

Kesempatan pertama Apriyani Rahayu adalah tampil di ajang Sirnas Djarum tahun 2012 di Banjarmasin. Saat itu, ia bermain di nomor tunggal putri dan kandas di babak pertama.

Tak menyerah, Apriyani kemudian mendapat arahan dari pelatih, Toto Sunarto, agar beralih ke nomor ganda. Ternyata cocok.

Tahun 2017, Apriyani fokus untuk bermain di level senior dan dipasangkan dengan Greysia Polii menggantikan Nitya Maheswari yang cedera. Penampilan perdana mereka adalah di kejuaraan beregu Sudirman Cup tahun 2017.

Gelar pertama yang diperoleh Apriyani bersama Greysia adalah BWF Grand Prix Gold di Thailand Open tahun 2017 disusul BWF Super Series di Prancis Terbuka Super Series 2017.

Setelah itu, Apriyani-Greysia menjadi runner up di Hongkong Open tahun 2017 setelah kalah dari Chen Qingchen/Jia Yifan.

Apriyani-Greysia juga pernah menyabet medali perunggu di Asian Games 2018 dan Kejuaraan Dunia 2018.

Diceritakan, Apriyani sudah bermain bulu tangkis bahkan sejak dirinya belum lancar berbicara. Dia memakai raket bekas milik ibunya yang memang sering mengikuti lomba mewakili kantornya.

Sang ibu memang gemar bermain bulutangkis. Ia sering mewakili dinas untuk lomba di level kantor.

Karena bekas, dulu raket Apriyani sering putus senarnya lalu disambung lagi oleh sang ayah. Agar Apriyani bisa berlatih, sang ayah kemudian  membuatkan lapangan bulutangkis sederhana di halaman rumahnya di Konawe.

Kini, raket bekas Apriyani dan raket kayu Greysia itu telah membuahkan emas Olimpiade yang telah mengharumkan nama bangsanya di pentas dunia. Bravo! (red)

Avatar

By admin

GeRal (https://geraijenderal.id) merupakan platform berbagi informasi positif, Independen tentang ketahanan pangan dan berita inspirasi informasi Bisnis & UMKM se-Indonesia dengan bermacam potensi yang dimiliki.

Tinggalkan Balasan

Lagi Hangat Selamat Hari Bakti TNI AU Ke-74 Qoutes of day