Jakarta–GeRal: Guru Besar IPB University Prof Muhamad Syukur mengungkap soal  pentingnya peran pemulia tanaman pangan bagi kedaulatan negara, terutama dalam hal pangan.

Menurutnya, peran pemulia tanaman sangat krusial. Tugas mereka antara lain, merakit varietas tanaman pangan yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian dari masa ke masa.

Menurut dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura ini, pemuliaan varietas tanaman padi telah dimulai sejak tahun 1943 dengan nama Begawan.

Para pemulia menyilangkan antar tetua dari tiga negara yakni China, India, dan Indonesia. Varietas itu disebutkan dalam dokumen saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang merupakan cikal bakal berdirinya Institut Pertanian Bogor (sekarang IPB University).

“Karakternya kemudian diperbaiki dengan adanya revolusi hijau, khususnya untuk sifat responsif terhadap pemupukan,” kata dia, dilansir ipb.ac.id.

Menurut Prof Syukur, varietas padi terus berkembang pada tahun 70-an, 80-an, dan 90-an dengan varietas Ciherang sebagai favoritnya. Produktivitas dan ketahanan terhadap penyakitnya juga ditingkatkan.

Sementara, periode 2000-an merupakan era varietas padi tipe baru yaitu varietas Fatmawati.

Masih menurut Prof Syukur, varietas-varietas baru perlu terus didukung dengan paket teknologi apalagi bila terdapat perbedaan idiotipe atau perbedaan yang telah bergeser dari pemahaman petani.

“Paket teknologi tersebut harus ditekankan agar sesuai dengan idiotipe tanaman. Peran penyuluh diperlukan untuk mengurangi gap tersebut. Bila masih menggunakan teknologi lama pada padi tipe baru, maka produktivitasnya tidak akan tercapai,” kata Prof Syukur dalam Webinar Propaktani tentang ‘Peran Pemulian Tanaman dalam Menyediakan Varietas Unggul Tanaman Pangan’ yang diselenggarakan Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu.

“Paket teknologi ini harus dikawal, bagaimana cara petani menggunakannya agar potensi dan fakta di lapangan itu tidak terlalu jauh,” tambah guru besar yang juga pemulia tanaman ini.

Dirinya juga menambahkan, pengembangan varietas padi hibrida perlu dicermati karena masih terdapat dalam produksi benih yang optimal.

Selain itu, pemulia tanaman juga harus mengikuti perkembangan teknologi seperti merakit varietas berbasis marka.

“Pemulia harus up to date terkait informasi terkini, tentang cara merakit dan mengkombinasikan agar karakteristik varietas sesuai dengan harapan,” ulasnya.

Menurut penemu ragam varietas buah dan sayur ini, perlu disikapi dan dipahami bahwa terdapat batas fisiologis yang melandai sehingga perlu kajian lebih lanjut agar produktivitasnya tetap meningkat. Bila produktivitasnya tergolong stagnan, maka perlu dilengkapi informasi baru agar potensinya bisa maksimal.

Dia menegaskan, tantangan pemulia tanaman di masa depan sebagai ujung tombak produktivitas pertanian terdapat pada pemuliaan tanaman.

“Bung Karno juga telah berpesan bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan ratusan ahli seleksi atau pemuliaan tanaman,” imbuhnya.

Selain itu, menurutnya, kapasitas sumberdaya manusia pemulia juga harus terus ditingkatkan dengan pendidikan melalui sekolah vokasi hingga pascasarjana, magang, kursus, serta knowledge sharing antar pemulia.

Di lain sisi, petani pemulia juga perlu didukung dan diperbanyak. Baik melalui pelatihan pemuliaan langsung maupun participatory plant breeding.

“Untuk memperluas cakupan petani, maka harus dibina dan didukung melalui pelatihan pemuliaan,” tandasnya. (tam)

Avatar

By tam

Tinggalkan Balasan

Lagi Hangat Selamat Hari Bakti TNI AU Ke-74 Qoutes of day